Pengertiana Bubble Cryptocurrency

Dalam pengertiannya, istilah cryptocurrency bubble bisa diterangkan sebagai peristiwa yang terjadi pada asset kripto. Hal yang diartikan ialah mengenai peningkatan harga yang tinggi dalam periode waktu tertentu. Walau harga membumbung tinggi, keadaan ini dituruti oleh pengurangan nilai yang cepat juga. Hingga keadaan ini akan berpengaruh pada rugi besar yang dirasakan oleh beberapa investor.

Sama seperti yang dijumpai, asset mata uang kripto memang dikenali mempunyai beberapa resiko, salah satunya ialah harga yang paling fluktuaktif. Untuk tersebut, keadaan harga mata uang kripto yang naik dan turun secara cepat itu, disebutkan dengan istilah cryptocurrency bubble. Dari beragam sumber, ditulis jika pemakaian istilah bubble (gelembung) itu, disimpulkan sebagai pertanda jika harga satu asset kripto bisa pecah dan melorot turun tajam dan terjadi kapan pun. Tetapi, yang pantas Anda tulis, peristiwa cryptocurrency bubble ini dikuasai oleh FOMO.

Sama seperti yang sudah diterangkan awalnya, mayoritas cryptocurrency dijumpai mempunyai harga yang tidak konstan, alami peningkatan dan pengurangan harga yang mencolok dan roboh dalam tahun-tahun ini. Ini sudah memacu banyak pembicaraan mengenai apa cryptocurrency akan alami ‘bubble‘ dan bagaimana cryptocurrency harus ditata sebegitu rupa. Bahkan juga perkiraan robohnya nilai spekulatif dalam cryptocurrency sudah ditelaah oleh beberapa pakar di bagian ekonomi dan keuangan.

Peristiwa Bitcoin Bubble

Munculnya Bitcoin dengan harga yang fenomenal sudah mengundang perhatian beragam faksi. Tetapi, harga asset kripto tidak selamanya konstan, terhitung Bitcoin.

Peningkatan dan pengurangan harga yang mencolok dalam sekejap sudah mengundang perhatian dari pengamat ekonomi dan keuangan. Banyak pakar yang menjelaskan jika mata uang kripto itu terhitung Bubble, yang satu saat dapat pecah. Bahkan juga, pada tahun 2021, beberapa coin kripto di tingkat Bubble.

Pada bulan November 2018, kapitalisasi pasar Bitcoin turun 80 %. Selanjutnya di bulan Desembernya, harga itu capai dasar paling rendahnya dengan menempati di titik USD3,100.

Sesudah memperlihatkan pengokohan, pengurangan besar terjadi kembali pada tahun 2020; sekitaran bulan Maret, Bitcoin turun sejumlah 30 %. Harga lalu naik cepat pada bulan Oktober sampai capai USD13,200, bahkan juga sentuh USD19,000 pada November, dan terus melesat di atas USD60,000 pada paruh pertama 2021. Sayang, harga selanjutnya perlahan-lahan lengser dan cuma diperjualbelikan disekitaran USD42,000 saat artikel ini dicatat.

Pengurangan harga Bitcoin ini sudah pasti mempengaruhi coin yang lain, seperti Ethereum, Cardano, Dogecoin, dan lain-lain. Menurut infonya, harga Ethereum turun sampai 38.48 %, Cardano amblas sampai 35.83 %, Binance Koin menurun 52.77 %, dan Dogecoin melorot 34.71 %.

Bila disaksikan, peristiwa di atas terhitung dalam pertanda Bubble karena nilai mata uang kripto yang naik dan turun dengan mencolok dalam sekejap. Harga Bitcoin saja turunnya telah lebih dari 25% yang mengisyaratkan pengurangan tajam.

Bila diuraikan dalam kurva, Bitcoin sudah capai pucuknya dan ada di masa bearish saat sebelum alami peningkatan selanjutnya. Namun, ada opini yang menjelaskan kripto sudah berbeda dari pasar bullish koheren jadi tidak koheren, hingga susah untuk menganalisanya lewat teori gelombang tren.

DeFi atau keuangan terdesentralisasi bahkan juga turut beralih menjadi suatu hal yang gampang kehilangan nilainya. Walau sebenarnya, DeFi semula digadangkan sebagai mekanisme keuangan terintegrasi.

Ini menunjukkan jika gerakan Bitcoin bukan hanya memengaruhi Altcoin tapi juga produk blockchain yang lain. NFT juga tidak dapat terlepas dari dinamika ini.

Pertanda Berlangsungnya Crypto Bubble

Harga Bitcoin sepanjang Januari sampai Februari 2018 alami pengurangan 65%. Sekitar 80% nilai MVIS Cryptocompare Digital Asset 10 Indeks sudah lenyap pada September 2018 yang berpengaruh pada pengurangan pasar cryptocurrency dalam prosentase yang semakin besar dibandingkan ledakan bubble pada 2002 kemarin.

Kapitalisasi pasar Bitcoin alami pengurangan sampai $100 miliar pada November 2018 dan harga coinnya turun sampai $5.500. Satu bulan selanjutnya harga Bitcoin sentuh titik paling rendah sebesar $3.100.

Terhitung semenjak 8 Maret sampai 12 Maret 2020 kembali alami pengurangan sejumlah 30%. Sebelumnya bernilai $8.901 lalu dipandang sebesar $6.206. Tetapi pada Oktober 2020, harga naik ke angka $13.200. Kenaikan harga Bitcoin kembali terjadi pada November 2020. Bahkan juga harga melebihi tingkat paling tinggi selama hidup, yakni di atas $19.000.

Kenaikan harga Bitcoin bersambung pada 3 Januari 2021 pada harga $34.792,47. Tetapi esok harinya, harga Bitcoin turun 17%. Tidak perlu waktu yang lama, pada 8 Januari 2021 Bitcoin diperjualbelikan untuk pertamanya kali pada harga di atas $40.000 dan pada 16 Februari sentuh harga $50.000. Tetapi kembali lagi, harga Bitcoin jatuh ke angka $36.900 pada 19 Mei 2021.

Verified by MonsterInsights